Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

16/06/25

Kunci Penting Keluarga Bahagia

Penulis, Akhmad Muhaimin Azzet, di sebuah acara
resepsi pernikahan di gedung Pamungkas Yogyakarta.

Membangun keluarga yang bahagia adalah dambaan bagi setiap orang yang menikah. Bagi keluarga muslim, kebahagiaan yang ingin diraih adalah keluarga yang sakinah penuh mawaddah warahmah. Harapan inilah yang sering dijadikan doa seusai akad nikah dan atau saat resepsi pernikahan. Sebuah keluarga yang penuh barakah dari Allah Swt.

Apakah setiap pasangan yang menikah mampu membangun keluarga yang bahagia? Apakah setiap keluarga muslim mampu membangun keluarga yang sakinah penuh dengan mawaddah warahmah? Ternyata, tidak semua keluarga mampu meraih harapan tersebut.

Lalu, bagaimana caranya agar setiap keluarga muslim mampu membangun keluarga yang penuh barakah dari Allah Swt.

Kunci pentingnya adalah bagaimana setiap pribadi dalam keluarga menjadi muslim yang benar-benar taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Sebab, kebahagiaan sesungguhnya yang ingin diraih oleh seorang muslim adalah bahagia di dunia dan akhirat.

Apabila ada keluarga yang tampaknya bahagia dengan rumah yang bagus, kendaraan yang mewah, dan anak-anak yang berprestasi di sekolah. Namun, shalat fardhu sering ditinggalkan atau malah sama sekali tidak dilakukan, tak pernah terdengar bacaan al-Qur’an di rumahnya, anggota keluarga tak mengenal mana yang halal dan mana yang haram, apalagi puasa sunnah, apalagi shalat malam. Apakah keluarga yang seperti ini termasuk keluarga yang bahagia? Sama sekali tidak.

Semoga keluarga kita termasuk keluarga yang bahagia dalam arti yang sesungguhnya. Bahagia dalam ridha Allah ‘Azza wa Jalla. Allaahumma aamiin…

Salam dari Jogja,
Akhmad Muhaimin Azzet

25/05/20

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H

Penulis bersama santri,
kami mohon maaf lahir dan batin nggih...
Para sahabat di mana pun berada, saya ucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga amal ibadah dan kebaikan yang kita lakukan selama bulan Ramadhan kemarin diterima oleh Allah Swt.

Lebaran tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Wabah corona belum juga berakhir. Imbauan #diRumahSaja membuat kita tidak bisa silaturahmi ke sanak saudara dan para sahabat tercinta. Saya pun tidak bisa mudik ke Jombang. Bersama santri Rumah Tahfidz Masjid Al-Muhtadin yang berasal dari luar kota juga tidak bisa mudik. Semoga wabah ini segera berakhir.

06/08/18

Cara Mencium Tangan Orangtua

Foto dipotret ulang dari karya Dwi Oblo.
Saya tertarik menuliskan ini karena, menurut saya, tidak sedikit anak-anak yang mencium tangan orangtuanya, ternyata yang dilakukan bukan mencium tangan, tapi memipi tangan (menempelkan tangan orangtua ke pipi), atau ada juga yang mengening tangan (menempelkan tangan orangtua ke kening).

Namanya saja mencium, maka caranya ya tangan ibu atau ayah atau guru kita cium dengan hidung.

Namanya saja mencium, maka bukan sekadar menempelkan tangan beliau di ujung hidung kita. Sebagaimana kalau kita mencium buah mangga, misalnya, untuk mengetahui sudah matang dan wangi apa belum, apa yang kita lakukan? Ya, kita menghirup aromanya. Demikian pula caranya dalam mencium tangan orangtua.

28/06/18

Bisa Menghadapi Masalah dengan Baik

Saat mengisi pengajian di daerah Sleman, Yogyakarta.
Besar kecilnya masalah yang dihadapi seseorang tergantung dari seberapa kuat atau tidaknya seseorang bersandar kepada Allah Swt.

Ada orang yang tampaknya menghadapi masalah yang berat, akan tetapi hatinya begitu kuat bersandar kepada-Nya, maka baginya masalah yang dihadapinya biasa-biasa saja, meski orang lain memandangnya berat.

Begitu pula sebaliknya, ada orang yang menghadapi masalah ringan menurut anggapan orang lain, namun ia tak bersandar kepada Allah, maka ia merasa berat menghadapi masalah tersebut.

20/04/18

Pendidikan Tidak Hanya Mengembangkan Kecerdasan Intelektual

Masjid Al-Muhtadin, Perum Purwomartani Baru,
 Kalasan, Sleman.
Kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang sangat penting untuk dikembangkan dalam diri manusia. Ketiganya merupakan karunia Tuhan yang tidak boleh diabaikan agar manusia dapat menjalani dan menikmati kehidupannya dengan baik.

Akan tetapi, hal yang jangan sampai terjadi adalah mengembangkan kecerdasan yang satu, namun mengabaikan kecerdasan yang lainnya. Misalnya, sebagian orangtua dan para guru merasa bangga bila anak-anak mencapai prestasi yang baik dalam kecerdasan intelektualnya; dan seakan lupa bahwa masih ada kewajiban untuk mengembangkan kecerdasan yang lainnya dalam diri anak, yakni kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual.

03/04/18

Doa Agar Dikaruniai Anak yang Baik

Penulis menggendong Husna masih bayi.
Di dalam al-Qur’an, Allah Swt. berfirman mengenai doa Nabi Zakariya ‘alaihis salam sebagai berikut:

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

“Di sanalah Zakariya berdoa kepada Tuhannya seraya berkata, ‘Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.” (QS. Ali ‘Imran: 38).

Setelah berdoa sebagaimana tersebut, dalam ayat berikutnya diceritakan bahwa Nabi Zakariya didatangi Malaikat Jibril ‘alaihis salam, mengabarkan bahwa Allah Swt. mengabulkan doanya.

05/03/18

Mengembangkan Kecerdasan Intelektual Anak, Jangan Sampai Mengorbankan Kecerdasan Sosialnya

Bermain bersama teman-teman, betapa menyenangkan.
Pada suatu hari, saya yang mempunyai aktivitas memberikan les privat kepada anak sekolah ketika sore hari tidak bisa menemani belajar salah seorang anak karena ada keperluan, saya ingin meminta hari yang lain.

Apa jawaban sang anak?

Ternyata, dia sudah tidak mempunyai hari selain hari itu. Hari-hari yang lainnya dalam seminggu telah penuh dengan jadwal les privat.