Jendela Keluarga
13/05/26
Betapa Penting Kewajiban Shalat
08/03/26
Meraih Keutamaan I’tikaf
Hukum melakukan i’tikaf adalah sunnah. Namun, hukum ini bisa berubah karena hal tertentu, misalnya berhukum wajib karena telah nadzar untuk melakukan i’tikaf.
Dasar yang dipakai untuk melakukan amalan i’tikaf adalah firman Allah SWT sebagai berikut:
“…Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid….” (QS. Al-Baqarah: 187).
Dalam sebuah hadits, Ibnu Umar RA menceritakan sebagai berikut:
“Sesungguhnya Nabi SAW melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari).
I'tikaf adalah sebuah amalan yang dapat dilakukan setiap waktu. Akan tetapi, ketika memasuki bulan Ramadhan, amalan ini jangan sampai lupa untuk dilakukan. Apalagi, ketika Ramadhan telah menapaki hari ke-20, inilah saatnya bagi kita untuk mengencangkan ikat pinggang dan beri’tikaf dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Nabi kita Muhammad SAW telah memberikan teladan mengenai hal ini.
Tidak ada batasan berapa lama seseorang dalam melakukan i’tikaf. Sekurang-kurangnya berhenti sebentar. Akan tetapi, bagi kita yang menginginkan keutamaan di bulan Ramadhan, tentu akan melakukan i’tikaf tidak dalam waktu yang sebentar sekali. Setidaknya, memuji-Nya dengan lantunan dzikir, beristighfar, dan memohon kebaikan kepada-Nya. Dan, satu hal yang harus menjadi perhatian kita, ketika akan i’tikaf jangan sampai lupa untuk berniat i’tikaf. Dan kalau sudah keluar dari masjid tanpa udzur berarti telah batal i’tikafnya.
Ibnu Al-Qayyim menjelaskan bahwa tujuan i’tikaf adalah, “Untuk menghubungkan hati kepada Allah SWT dengan mengalihkan hati dari segala sesuatu selain Allah Ta’ala dan mengubah segala kesibukan kita dengan menyibukkan diri dengan-Nya serta mengalihkan segala sesuatu dari selain Dia, dan hanya tertuju kepada-Nya.”
Bila demikian adanya, betapa dekat antara seorang hamba dengan Allah SWT pada saat melakukan i’tikaf. Semoga kita dapat mengerjakan i’tikaf, terutama pada malam-malam di bulan Ramadhan, lebih-lebih pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Semoga kita bersama keluarga memperoleh banyak keutamaan di bulan Ramadhan, sehingga dosa-dosa kita diampuni dan doa-doa kita dikabulkan-Nya. Aamiin….
07/03/26
Agar Mendapatkan Lailatul Qadar
Malam Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Betapa beruntung orang yang mendapatkannya. Berarti, ia telah mendapatkan kebaikan lebih dari 83 tahun 4 bulan. Dan, ternyata keutamaan ini hanya diberikan kepada umat Nabi Muhammad SAW saja. Mengenai hal ini, Anas RA berkata bahwa Rasulullah SAW telah bersabda:
“Lailatul Qadar telah dikarunikan kepada umat ini (umatku) yang tidak diberikan kepada umat-umat sebelumku.”
Betapa bahagianya menjadi umat Nabi Muhammad SAW yang telah diberikan karunia yang begitu besar sebagaimana Lailatul Qadar. Oleh karena itu, alangkah ruginya bila kita tidak mendapatkannya dalam malam-malam di bulan Ramadhan. Rasulullah SAW juga menyayangkan apabila umatnya tak mendapatkan kebaikan dalam Lailatul Qadar sebagaimana beliau telah bersabda:
“Sesungguhnya bulan Ramadhan telah tiba kepada kalian, yang di dalamnya terdapat satu malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan. Barangsiapa terhalang dari memperoleh kebaikan malam itu, sungguh ia telah kehilangan seluruh kebaikannya. Dan tidaklah terhalang dari mendapatkan kebaikan malam itu kecuali orang yang malang.” (HR. Ibnu Majah).
Oleh karena itu, pada malam-malam di bulan Ramadhan, jangan sampai terlewat tanpa kita mendirikan shalat malam, membaca Al-Qur’an, berdzikir, bershalawat atas Nabi SAW, dan berdoa kepada Allah SWT. Dengan demikian, semoga kita mendapatkan Lailatul Qadar.
Allah Akan Membangga-banggakan Mereka
Agar kita lebih termotivasi lagi untuk mendapatkan Lailatul Qadar, marilah kita perhatikan sebuah hadits, yakni dari Anas RA, yang menyampaikan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda:
“Apabila Lailatul Qadar, maka Jibril turun (ke dunia) bersama kumpulan para malaikat dan akan berdoa bagi orang yang berdiri shalat malam atau duduk mengingat Allah. Dan pada hari Idul Fitri, Allah akan membangga-banggakan mereka di hadapan para malaikat-Nya dan berfirman, ‘Wahai para malaikat-Ku, apakah balasan bagi orang yang telah melaksanakan pekerjaannya?’ Jawab para malaikat, ‘Ya Rabb kami, hendaklah ia diberi ganjaran untuknya.’ Dia berfirman, ‘Wahai para malaikat-Ku, hamba laki-laki dan perempuan-Ku telah melaksanakan kewajiban-kewajiban mereka, lalu mereka keluar (untuk shalat Id) dan berdoa mengeraskan suaranya. Sungguh, demi kemuliaan-Ku, kemegahan-Ku, kehormatan-Ku, dan ketinggian tempat-Ku yang tertinggi, pasti Aku kabulkan doa-doa mereka.’ Lalu Allah berfirman kepada manusia, ‘Kembalilah kalian. Sungguh telah Aku ampuni kalian dan Aku ganti keburukan kalian dengan kebaikan-kebaikan.’ Nabi SAW bersabda, ‘Mereka pun kembali dengan memperoleh ampunan.” (HR. Baihaqi).
Subhânallâh…, duhai jiwa yang merindukan kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan, siapakah yang tidak bersyukur habis-habisan kepada-Nya bila menjadi hamba-Nya yang dibangga-banggakan Allah SWT di hadapan para malaikat-Nya. Sudah demikian, mendapatkan ampunan dan doa-doanya pun dikabulkan-Nya. Itulah orang-orang yang mendapat kebaikan dalam sebuah malam yang bernama Lailatul Qadar.
Kapan Lailatul Qadar?
Bila memang demikian, sungguh teramat besar keinginan hati kita untuk mengetahui kapan turunnya Lailatul Qadar itu?
Menjawab pertanyaan penting tersebut, marilah kita perhatikan sebuah hadits, yakni dari Ubadah bin Shamit RA, ia bertanya kepada Rasulullah SAW tentang Lailatul Qadar. Beliau bersabda:
“(Malam Lailatul Qadar) terdapat pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, yaitu pada malam-malam ganjil: malam ke-21, 23, 25, 27, 29, atau pada malam terakhir bulan Ramadhan. Barangsiapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang terdahulu akan diampuni. Di antara tanda-tandanya adalah suasana malam itu akan sunyi, bersih, tenang, cerah, tidak panas dan tidak dingin, seperti diteduhi oleh cahaya bulan, setan tidak diizinkan melemparkan bintang-bintang pada malam itu sampai pagi. Dan termasuk tanda-tandanya adalah matahari yang terbit pada pagi hari itu tidak terasa panas cahayanya, seperti bulan purnama. Pada saat itu, Allah melarang setan-setan muncul bersamanya.” (HR. Ahmad dan Baihaqi).
Telah jelas bagi kita tentang Lailatul Qadar dan tanda-tandanya. Apabila dalam hadits tersebut disampaikan kemungkinan Lailatul Qadar terjadi pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan dan pada malam-malam ganjil, bukan berarti kita hanya beribadah pada malam-malam tersebut. Pada setiap malam, bahkan semenjak malam pertama di bulan Ramadhan, kita sudah harus mulai menunggunya dengan beribadah, dan pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, kita semakin bersemangat dalam beribadah kepada Allah SWT. Pada malam-malam itu, kita perlu memperbanyak berdoa.
Doa yang Diajarkan Rasulullah SAW
Sayyidah ‘Aisyah RA pernah bertanya, “Ya Rasulullah, apa pendapatmu jika aku tahu kapan malam Lailatul Qadar, apa yang harus aku ucapkan?” Beliau SAW menjawab, “Ucapkanlah:
أَللهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي.
Allâhumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annî.
“Ya Allah, Engkaulah Tuhan yang memberi ampunan dan suka memberikan ampunan maka ampunilah kami.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah dengan sanad shahih).
04/03/26
Banyak Bersedekah di Bulan Ramadhan
Dalam hadits yang lain disebutkan, dari Ibnu Abbas RA, “Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan di antara manusia lainnya, dan beliau semakin dermawan saat berada di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Rezeki Akan Diganti oleh Sang Pemberi Rezeki
Sungguh, tak perlu khawatir terhadap harta yang kita sedekahkan atau kita infakkan di jalan Allah SWT akan hilang begitu saja. Yakinlah terhadap apa yang telah difirmankan oleh Allah SWT Yang Mahabenar dengan segala firman-Nya. Dalam hal ini, marilah kita renungkan firman Allah SWT sebagai berikut:
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya).’ Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39).
Bila memang demikian, tak perlu ada rasa pelit untuk memberikan sedekah. Jelas sekali Allah Swt. menegaskan, “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” Lagi pula, harta yang kita miliki sesungguhnya bukan milik kita dalam arti sebenarnya, semuanya adalah titipan dari Allah SWT. Meskipun demikian, kalau kita menafkahkan harta kita di jalan Allah SWT, sungguh ganti yang diberikan oleh Allah SWT tidak sedikit, melainkan berlipat-lipat.
Allah SWT berfirman:
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)
Rezeki Akan Bertambah-tambah
Bagi orang yang cerdas dan bisa berpikir jauh ke depan, sudah barang tentu berharap agar kehidupannya di masa depan, lebih jauh lagi dalam kehidupan yang abadi di akhirat kelak, senantiasa dilimpahi kebaikan oleh Allah SWT. Harapan itu pulalah yang ingin diterima ketika ia memberikan sedekah, sehingga ia mengeluarkannya dengan ikhlas karena Allah SWT. Meskipun demikian, di samping mendapatkan balasan di akhirat, ternyata di dunia pun Allah SWT memberikan ganti bagi harta yang disedekahkan hamba-Nya. Itulah kenapa kalau kita perhatikan kehidupan di sekitar kita bahwa orang yang senang bersedekah hidupnya bukannya tambah melarat, melainkan bertambah kaya.
Bila memang demikian, Mahabenar Allah SWT yang telah berfirman sebagai berikut:
“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah….” (QS. Al-Baqarah: 276).
Menurut ulama ahli tafsir, yang dimaksud dengan memusnahkan riba dalam ayat tersebut ialah Allah SWT akan memusnahkan harta yang dikembangkan dengan cara riba atau meniadakan berkahnya. Dan, yang dimaksud dengan menyuburkan sedekah ialah Allah SWT akan memperkembangkan harta yang telah dikeluarkan sedekahnya atau melipatgandakan berkahnya.
Subhânallâh…, betapa benar apa yang telah disabdakan oleh junjungan kita Nabi Agung Muhammad Saw. sebagai berikut:
“Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Allah SWT akan menambah kemuliaan kepada hamba-hamba-Nya yang pemaaf. Dan bagi hamba yang tawadhu’ karena Allah Swt., Allah Swt. akan mengangkat (derajatnya).” (HR. Muslim).
Betapa Beruntung Orang yang Bersedekah
Alangkah beruntungnya bagi orang-orang yang senang dalam memberikan sedekah. Apalagi, menurut sabda Rasulullah SAW dalam riwayat yang lain, sedekah itu bisa memadamkan dosa sebagaimana air yang memadamkan api. Mengenai hal ini, Mu’adz bin Jabal RA bercerita bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, beritahu aku amal yang akan memasukkanku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka.”
Beliau SAW bersabda, “Engkau telah bertanya tentang masalah yang besar. Namun, itu adalah perkara yang mudah bagi siapa yang dimudahkan oleh Allah SWT. Engkau harus menyembah Allah dan jangan menyekutukan-Nya dengan apa pun, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa Ramadhan, dan haji ke Baitullah.”
Kemudian beliau bersabda, “Maukah kamu aku tunjukkan pintu-pintu kebajikan? Puasa adalah perisai, sedekah memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api, dan shalat di tengah malam.”
Kemudian beliau membaca ayat, “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya….” hingga firman-Nya, “…sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS As-Sajdah: 16-17).
Kemudian beliau bersabda kembali, “Maukah kalian aku beritahu pangkal agama, tiangnya, dan puncak tertingginya?”
Aku menjawab, “Mau, wahai Rasulullah.”
Rasulullah SAW bersabda, “Pokok urusan adalah Islam (masuk Islam dengan syahadat), tiangnya adalah shalat, dan puncak tertingginya adalah jihad.” Kemudian beliau melanjutkan, “Maukah kalian aku beritahu tentang kendali bagi semua itu?”
Aku menjawab, “Mau, wahai Rasulullah.”
Beliau lalu memegang lidahnya dan bersabda, “Jagalah ini.”
Aku berkata, “Wahai Nabi Allah, apakah kita akan disiksa karena ucapan-ucapan kita?”
Beliau menjawab, “Celaka kamu. Bukankah banyak dari kalangan manusia yang tersungkur ke dalam api neraka dengan mukanya terlebih dahulu itu gara-gara buah ucapan lisannya?”
Demikianlah apa yang diceritakan oleh Mu’adz bin Jabal dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi.
Bagaimana Sedekah Jika Ekonomi Sulit?
Pembaca yang budiman, berkaitan dengan memberikan sedekah, ada pertanyaan penting yang perlu penulis sampaikan di sini, yakni “Bagaimana sedekahnya bagi orang-orang yang secara ekonomi sudah sulit?”
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, marilah kita perhatikan hadits berikut, yakni dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw. pernah ditanya:
“Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling mulia?” Beliau menjawab, “Sedekah orang yang tak punya, dan mulailah (memberi sedekah) atas orang yang banyak tanggungannya.” (Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad dan Abu Dawud. Dan, hadits ini shahih menurut Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Hakim).
Jelas sekali disampaikan oleh Nabi Saw., dalam keadaan tidak punya pun justru sedekah yang diberikannya menjadi paling mulia. Lantas, bagaimana jika memang benar-benar tidak mempunyai sesuatu untuk disedekahkan?
Jawaban dari pertanyaan tersebut dapat ditemukan dalam sebuah hadits, yakni dari Abu Dzar RA, ia berkata:
“Ada sekelompok sahabat Rasulullah mengadu, ‘Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami puasa, namun mereka dapat bersedekah dengan kelebihan hartanya.’ Beliau bersabda, ‘Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian apa-apa yang dapat kalian sedekahkan? Sesungguhnya pada setiap tasbih ada sedekah, pada setiap tahmid ada sedekah, pada setiap tahlil ada sedekah, menyuruh kebaikan adalah sedekah, melarang kemungkaran adalah sedekah, dan mendatangi istrimu juga sedekah.’ Mereka bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah jika seseorang memenuhi kebutuhan syahwatnya itu pun mendatangkan pahala?’ Beliau bersabda, ‘Apa pendapatmu, bila ia menempatkan pada tempat yang haram, bukankah ia berdosa? Demikian pula bila ia menempatkan pada tempat yang halal, ia akan mendapatkan pahala.” (HR. Muslim).
01/03/26
Shalat Witir
“Sesungguhnya Allah membantu kamu dengan shalat yang lebih baik bagimu daripada unta merah?” Kami bertanya: “Shalat apa itu ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Witir, antara shalat Isya hingga terbitnya fajar.” (HR. Imam Lima, kecuali Nasa'i. Hadits ini shahih menurut Hakim).
Shalat Witir adalah shalat sunnah yang jumlah rakaatnya ganjil. Jumlah rakaat shalat Witir bisa satu rakaat, tiga rakaat, lima rakaat, tujuh rakaat, sembilan rakaat, dan paling banyak sebelas rakaat. Dikarenakan shalat Witir itu adalah shalat dengan rakaat yang ganjil, maka tidak ada shalat witir yang dikerjakan dua kali dalam satu malam. Kalau dikerjakan dua kali maka otomatis akan menjadi genap. Di samping itu, Nabi SAW pun pernah menyampaikan akan hal ini sebagaimana sebuah hadits, yakni dari Thalq Ibnu Ali yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak ada dua Witir dalam satu malam.” (HR. Ahmad dan Imam tiga. Hadits ini shahih menurut Ibnu Hibban).
Hukum mengerjakan shalat Witir ini adalah sunnah muakkad. Berkaitan dengan hal ini, marilah kita perkatikan sebuah hadits sebagaimana yang telah disampaikan oleh Sayyidina Ali karramallahu wajhah berikut:
“Sesungguhnya shalat Witir itu bukanlah shalat fardhu sebagaimana shalat lima yang diwajibkan, tetapi Rasulullah SAW senantiasa mengerjakan shalat Witir, kemudian beliau bersabda, ‘Wahai Ahlul Qur’an, kerjakanlah shalat Witir karena sesungguhnya Allah itu tunggal dan menyukai yang ganjil.”
Cara mengerjakan shalat Witir bila lebih dari satu rakaat bisa setiap dua rakaat salam dan yang terakhir dengan satu rakaat salam. Bila mengerjakan shalat Witir tiga rakaat dan tidak memilih cara dengan dua rakaat salam maka juga bisa dengan tiga rakaat sekaligus, namun tidak memakai duduk tasyahud awal agar menyelesihi atau berbeda dengan shalat Maghrib.
Shalat Witir dan Doa Qunut
أَللهُمَّ اهْدِنِي فِيْمَنْ هَدَيْتَ, وَ عَافِنِي فِيْمَنْ عَافَيْتَ, وَ تَوَلَّنِي فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ, وَ بَارِكْ لِي فِيْمَا أَعْطَيْتَ, وَ قِنِي بِرَحْمَتِكَ شَرَّ مَا قَضَيْتَ, فَإِنَّكَ تَقْضِي وَ لاَ يُقْضَى عَلَيْكَ, وَ إِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ, وَ لاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ, تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَ تَعَالَيْتَ, فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ, أَسْتَغْفِرُكَ وَ أَتُوْبُ إِلَيْكَ, وَ صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ سَلَّمَ.
Allâhummahdinî fîman hâdaît, wa ‘âfinî fîman ‘âfaît, wa tawallanî fîman tawallaît, wa bâriklî fîmâ a’thaît, wa qinî bi rahmatika syarramâ qadhaît, fa innaka taqdhî wa lâ yuqdhâ ‘alaîk, wa innahu lâ yadzillu maw-wâlaît, wa lâ ya’izzu man ‘âdaît, tabârakta rabbanâ wa ta’âlaît, falakal-hamdu ‘alâ mâ qadhaît, astaghfiruka wa atûbu ilaîk, wa shallallâhu ‘alâ sayyidinâ Muhammadinin nabiyyil ummiyyi wa ‘alâ âlihî wa shahbihî wa sallam.
Artinya:
“Ya Allah, berilah aku petunjuk sebagaimana orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk, berilah aku kesehatan sebagaimana orang-orang yang telah Engkau beri kesehatan, berilah aku perlindungan sebagaimana orang-orang yang telah mendapatkan perlindungan-Mu, berilah aku keberkahan di dalam apa yang telah Engkau karuniakan, hindarkanlah aku dari takdir yang buruk, maka sesungguhnya hanya Engkaulah yang dapat memastikan dan tidak ada lagi yang dapat memastikan Engkau, tidaklah hina orang yang mendapatkan perlindungan-Mu, dan tidaklah mulia orang yang Engkau musuhi. Ya Tuhan kami, bertambah-tambah keberkahan-Mu dan dan bertambah-tambah pula keluhuran-Mu. Maka segala puji hanya bagi-Mu atas segala apa yang telah Engkau tentukan. Aku memohon ampunan dan bertaubat kepada-Mu. Semoga rahmat dan kesejahteraan Allah senantiasa dilimpahkan kepada junjungan kami Muhammad, seorang nabi yang ummi, juga kepada keluarga dan sahabatnya.” []




