04/03/26

Banyak Bersedekah di Bulan Ramadhan

Memberikan sedekah kepada orang-orang yang membutuhkan atau berinfak di jalan Allah SWT sungguh sangat besar pahalanya. Amalan mulia ini juga banyak mengandung keutamaan, tidak hanya di akhirat, namun juga pelakunya akan mendapatkan balasan yang banyak ketika hidup di dunia. Apalagi, bila dilakukan di bulan Ramadhan, tentu akan berlipat keutamaan akan diperoleh para pelakunya yang ikhlas dalam rangka mencari ridha-Nya.
 
Dalam sebuah hadits, dari Anas RA dikatakan, “Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang nilainya paling mulia?” Rasulullah menjawab, “Sedekah di bulan Ramadhan.” (HR. At-Tirmidzi).

Dalam hadits yang lain disebutkan, dari Ibnu Abbas RA, “Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan di antara manusia lainnya, dan beliau semakin dermawan saat berada di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rezeki Akan Diganti oleh Sang Pemberi Rezeki

Sungguh, tak perlu khawatir terhadap harta yang kita sedekahkan atau kita infakkan di jalan Allah SWT akan hilang begitu saja. Yakinlah terhadap apa yang telah difirmankan oleh Allah SWT Yang Mahabenar dengan segala firman-Nya. Dalam hal ini, marilah kita renungkan firman Allah SWT sebagai berikut:

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya).’ Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39).

Bila memang demikian, tak perlu ada rasa pelit untuk memberikan sedekah. Jelas sekali Allah Swt. menegaskan, “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” Lagi pula, harta yang kita miliki sesungguhnya bukan milik kita dalam arti sebenarnya, semuanya adalah titipan dari Allah SWT. Meskipun demikian, kalau kita menafkahkan harta kita di jalan Allah SWT, sungguh ganti yang diberikan oleh Allah SWT tidak sedikit, melainkan berlipat-lipat.

Allah SWT berfirman:

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)

Rezeki Akan Bertambah-tambah

Bagi orang yang cerdas dan bisa berpikir jauh ke depan, sudah barang tentu berharap agar kehidupannya di masa depan, lebih jauh lagi dalam kehidupan yang abadi di akhirat kelak, senantiasa dilimpahi kebaikan oleh Allah SWT. Harapan itu pulalah yang ingin diterima ketika ia memberikan sedekah, sehingga ia mengeluarkannya dengan ikhlas karena Allah SWT. Meskipun demikian, di samping mendapatkan balasan di akhirat, ternyata di dunia pun Allah SWT memberikan ganti bagi harta yang disedekahkan hamba-Nya. Itulah kenapa kalau kita perhatikan kehidupan di sekitar kita bahwa orang yang senang bersedekah hidupnya bukannya tambah melarat, melainkan bertambah kaya.

Bila memang demikian, Mahabenar Allah SWT yang telah berfirman sebagai berikut:

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah….” (QS. Al-Baqarah: 276).

Menurut ulama ahli tafsir, yang dimaksud dengan memusnahkan riba dalam ayat tersebut ialah Allah SWT akan memusnahkan harta yang dikembangkan dengan cara riba atau meniadakan berkahnya. Dan, yang dimaksud dengan menyuburkan sedekah ialah Allah SWT akan memperkembangkan harta yang telah dikeluarkan sedekahnya atau melipatgandakan berkahnya.

Subhânallâh…, betapa benar apa yang telah disabdakan oleh junjungan kita Nabi Agung Muhammad Saw. sebagai berikut:

“Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Allah SWT akan menambah kemuliaan kepada hamba-hamba-Nya yang pemaaf. Dan bagi hamba yang tawadhu’ karena Allah Swt., Allah Swt. akan mengangkat (derajatnya).” (HR. Muslim).

Betapa Beruntung Orang yang Bersedekah

Alangkah beruntungnya bagi orang-orang yang senang dalam memberikan sedekah. Apalagi, menurut sabda Rasulullah SAW dalam riwayat yang lain, sedekah itu bisa memadamkan dosa sebagaimana air yang memadamkan api. Mengenai hal ini, Mu’adz bin Jabal RA bercerita bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, beritahu aku amal yang akan memasukkanku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka.”

Beliau SAW bersabda, “Engkau telah bertanya tentang masalah yang besar. Namun, itu adalah perkara yang mudah bagi siapa yang dimudahkan oleh Allah SWT. Engkau harus menyembah Allah dan jangan menyekutukan-Nya dengan apa pun, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa Ramadhan, dan haji ke Baitullah.”

Kemudian beliau bersabda, “Maukah kamu aku tunjukkan pintu-pintu kebajikan? Puasa adalah perisai, sedekah memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api, dan shalat di tengah malam.”

Kemudian beliau membaca ayat, “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya….” hingga firman-Nya, “…sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS As-Sajdah: 16-17).

Kemudian beliau bersabda kembali, “Maukah kalian aku beritahu pangkal agama, tiangnya, dan puncak tertingginya?”

Aku menjawab, “Mau, wahai Rasulullah.”

Rasulullah SAW bersabda, “Pokok urusan adalah Islam (masuk Islam dengan syahadat), tiangnya adalah shalat, dan puncak tertingginya adalah jihad.” Kemudian beliau melanjutkan, “Maukah kalian aku beritahu tentang kendali bagi semua itu?”

Aku menjawab, “Mau, wahai Rasulullah.”

Beliau lalu memegang lidahnya dan bersabda, “Jagalah ini.”

Aku berkata, “Wahai Nabi Allah, apakah kita akan disiksa karena ucapan-ucapan kita?”

Beliau menjawab, “Celaka kamu. Bukankah banyak dari kalangan manusia yang tersungkur ke dalam api neraka dengan mukanya terlebih dahulu itu gara-gara buah ucapan lisannya?”

Demikianlah apa yang diceritakan oleh Mu’adz bin Jabal dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi.

Bagaimana Sedekah Jika Ekonomi Sulit?

Pembaca yang budiman, berkaitan dengan memberikan sedekah, ada pertanyaan penting yang perlu penulis sampaikan di sini, yakni “Bagaimana sedekahnya bagi orang-orang yang secara ekonomi sudah sulit?”

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, marilah kita perhatikan hadits berikut, yakni dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw. pernah ditanya:

“Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling mulia?” Beliau menjawab, “Sedekah orang yang tak punya, dan mulailah (memberi sedekah) atas orang yang banyak tanggungannya.” (Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad dan Abu Dawud. Dan, hadits ini shahih menurut Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Hakim).

Jelas sekali disampaikan oleh Nabi Saw., dalam keadaan tidak punya pun justru sedekah yang diberikannya menjadi paling mulia. Lantas, bagaimana jika memang benar-benar tidak mempunyai sesuatu untuk disedekahkan?

Jawaban dari pertanyaan tersebut dapat ditemukan dalam sebuah hadits, yakni dari Abu Dzar RA, ia berkata:

“Ada sekelompok sahabat Rasulullah mengadu, ‘Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami puasa, namun mereka dapat bersedekah dengan kelebihan hartanya.’ Beliau bersabda, ‘Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian apa-apa yang dapat kalian sedekahkan? Sesungguhnya pada setiap tasbih ada sedekah, pada setiap tahmid ada sedekah, pada setiap tahlil ada sedekah, menyuruh kebaikan adalah sedekah, melarang kemungkaran adalah sedekah, dan mendatangi istrimu juga sedekah.’ Mereka bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah jika seseorang memenuhi kebutuhan syahwatnya itu pun mendatangkan pahala?’ Beliau bersabda, ‘Apa pendapatmu, bila ia menempatkan pada tempat yang haram, bukankah ia berdosa? Demikian pula bila ia menempatkan pada tempat yang halal, ia akan mendapatkan pahala.” (HR. Muslim).

01/03/26

Shalat Witir

Shalat Witir dikerjakan pada malam hari, waktunya sama dengan shalat Lail, yakni sesudah shalat Isya sampai dengan terbit fajar atau menjelang subuh. Sebenarnya, mengerjakan shalat Witir tidak hanya di bulan Ramadhan saja sebagaimana pengkhususan shalat Tarawih; shalat Witir juga bisa dikerjakan pada bulan-bulan yang lain. Akan tetapi, pada bulan Ramadhan kebanyakan dari kita senantiasa berusaha untuk mengerjakan shalat Tarawih, maka dalam risalah sederhana ini penulis memandang perlu untuk membahas masalah shalat Witir yang biasanya juga dikerjakan setelah shalat Tarawih.
 
Berkaitan dengan waktu dalam mengerjakan shalat Witir, marilah kita perhatikan sebuah hadits, yakni dari Kharijah Ibnu Hudzafah RA, bahwa Rasulullah SAW telah bersabda:

“Sesungguhnya Allah membantu kamu dengan shalat yang lebih baik bagimu daripada unta merah?” Kami bertanya: “Shalat apa itu ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Witir, antara shalat Isya hingga terbitnya fajar.” (HR. Imam Lima, kecuali Nasa'i. Hadits ini shahih menurut Hakim).

Shalat Witir adalah shalat sunnah yang jumlah rakaatnya ganjil. Jumlah rakaat shalat Witir bisa satu rakaat, tiga rakaat, lima rakaat, tujuh rakaat, sembilan rakaat, dan paling banyak sebelas rakaat. Dikarenakan shalat Witir itu adalah shalat dengan rakaat yang ganjil, maka tidak ada shalat witir yang dikerjakan dua kali dalam satu malam. Kalau dikerjakan dua kali maka otomatis akan menjadi genap. Di samping itu, Nabi SAW pun pernah menyampaikan akan hal ini sebagaimana sebuah hadits, yakni dari Thalq Ibnu Ali yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak ada dua Witir dalam satu malam.” (HR. Ahmad dan Imam tiga. Hadits ini shahih menurut Ibnu Hibban).

Hukum mengerjakan shalat Witir ini adalah sunnah muakkad. Berkaitan dengan hal ini, marilah kita perkatikan sebuah hadits sebagaimana yang telah disampaikan oleh Sayyidina Ali karramallahu wajhah berikut:

“Sesungguhnya shalat Witir itu bukanlah shalat fardhu sebagaimana shalat lima yang diwajibkan, tetapi Rasulullah SAW senantiasa mengerjakan shalat Witir, kemudian beliau bersabda, ‘Wahai Ahlul Qur’an, kerjakanlah shalat Witir karena sesungguhnya Allah itu tunggal dan menyukai yang ganjil.” 

Cara mengerjakan shalat Witir bila lebih dari satu rakaat bisa setiap dua rakaat salam dan yang terakhir dengan satu rakaat salam. Bila mengerjakan shalat Witir tiga rakaat dan tidak memilih cara dengan dua rakaat salam maka juga bisa dengan tiga rakaat sekaligus, namun tidak memakai duduk tasyahud awal agar menyelesihi atau berbeda dengan shalat Maghrib.

Shalat Witir dan Doa Qunut
 
Setelah bulan Ramadhan melewati tanggal 15, yakni mulai tanggal 16 Ramadhan hingga akhir bulan Ramadhan, di rakaat terakhir dari shalat Witir yang kita kerjakan bisa membaca doa Qunut sebagai berikut:

أَللهُمَّ اهْدِنِي فِيْمَنْ هَدَيْتَ, وَ عَافِنِي فِيْمَنْ عَافَيْتَ, وَ تَوَلَّنِي فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ, وَ بَارِكْ لِي فِيْمَا أَعْطَيْتَ, وَ قِنِي بِرَحْمَتِكَ شَرَّ مَا قَضَيْتَ, فَإِنَّكَ تَقْضِي وَ لاَ يُقْضَى عَلَيْكَ, وَ إِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ, وَ لاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ, تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَ تَعَالَيْتَ, فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ, أَسْتَغْفِرُكَ وَ أَتُوْبُ إِلَيْكَ, وَ صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ سَلَّمَ.

Allâhummahdinî fîman hâdaît, wa ‘âfinî fîman ‘âfaît, wa tawallanî fîman tawallaît, wa bâriklî fîmâ a’thaît, wa qinî bi rahmatika syarramâ qadhaît, fa innaka taqdhî wa lâ yuqdhâ ‘alaîk, wa innahu lâ yadzillu maw-wâlaît, wa lâ ya’izzu man ‘âdaît, tabârakta rabbanâ wa ta’âlaît, falakal-hamdu ‘alâ mâ qadhaît, astaghfiruka wa atûbu ilaîk, wa shallallâhu ‘alâ sayyidinâ Muhammadinin nabiyyil ummiyyi wa ‘alâ âlihî wa shahbihî wa sallam.

Artinya:
“Ya Allah, berilah aku petunjuk sebagaimana orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk, berilah aku kesehatan sebagaimana orang-orang yang telah Engkau beri kesehatan, berilah aku perlindungan sebagaimana orang-orang yang telah mendapatkan perlindungan-Mu, berilah aku keberkahan di dalam apa yang telah Engkau karuniakan, hindarkanlah aku dari takdir yang buruk, maka sesungguhnya hanya Engkaulah yang dapat memastikan dan tidak ada lagi yang dapat memastikan Engkau, tidaklah hina orang yang mendapatkan perlindungan-Mu, dan tidaklah mulia orang yang Engkau musuhi. Ya Tuhan kami, bertambah-tambah keberkahan-Mu dan dan bertambah-tambah pula keluhuran-Mu. Maka segala puji hanya bagi-Mu atas segala apa yang telah Engkau tentukan. Aku memohon ampunan dan bertaubat kepada-Mu. Semoga rahmat dan kesejahteraan Allah senantiasa dilimpahkan kepada junjungan kami Muhammad, seorang nabi yang ummi, juga kepada keluarga dan sahabatnya.” []

27/02/26

Meraih Kemuliaan di Bulan Ramadhan dengan Tadarus Al-Qur’an

Pada bulan Ramadhan, sebaiknya kita lebih banyak lagi dalam membaca kitab suci Al-Qur’an bila dibanding dengan di bulan lainnya. Hal ini perlu kita lakukan agar mendapatkan banyak keutamaan di bulan suci ini. Selain membaca, kita juga perlu mempelajari, memahami kandungan Al-Qur’an, dan mengambil pelajaran di dalamnya. Cara yang seperti ini dinamakan sebagai tadarus Al-Qur’an.

Kegiatan tadarus Al-Qur’an pada malam Ramadhan biasanya dilakukan di masjid-masjid atau mushala. Kegiatan ini bagus sekali dan perlu untuk terus ditingkatkan agar kita semakin cinta terhadap Al-Qur’an dan kian memahami isi kandungan Al-Qur’an, sehingga banyak mengambil pelajaran dari kitab suci Al-Qur’an. Hal ini sangat penting karena Al-Qur’an adalah pedoman hidup nomor satu bagi kita kaum Muslimin.

Selain tadarus Al-Qur’an di masjid, pada saat di rumah pun hendaknya kita juga perlu untuk membaca Al-Qur’an. Berkaitan dengan pentingnya untuk membaca Al-Qur’an ini, marilah kita perhatikan sebuah hadits, yakni dari Anas RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW telah bersabda:

“Perbanyaklah membaca Al-Qur’an di rumahmu, sesungguhnya di dalam rumah yang tak ada orang membaca Al-Qur’an, akan sedikit sekali dijumpai kebaikan di rumah itu, dan akan banyak keburukan, serta penghuninya selalu merasa sempit dan susah.” (HR. Daruquthni).

“Hendaklah kamu beri nur (cahaya) rumah tanggamu dengan sembahyang dan dengan membaca Al-Qur’an.” (HR. Baihaqi).

Dalam hadits tersebut, Rasulullah SAW memerintahkan untuk membaca Al-Qur’an di rumah kita masing-masing agar para penghuni rumah senantiasa dalam kebaikan, tidak merasa sempit dan susah. Membaca Al-Qur’an di rumah juga menjadikan rumah tangga yang kita bangun mendapatkan cahaya dari Allah SWT. Perintah ini memang tidak khusus pada bulan Ramadhan saja, akan tetapi alangkah lebih baik jika di bulan Ramadhan --yang penuh dengan keutamaan-- kita semakin memperbanyak untuk membaca Al-Qur’an di rumah kita.

Tidak hanya di rumah, ketika istirahat dalam sebuah perjalanan, seusai shalat Dzuhur di tempat kerja, atau ketika menunggu sesuatu, misalnya, alangkah indahnya jika kita juga memanfaatkannya dengan membaca Al-Qur’an.


Adab Ketika Membaca Al-Qur’an

Di dalam membaca Al-Qur’an, ada beberapa adab yang harus kita perhatikan, sebagai berikut:

  1. Sebelum membaca Al-Qur’an hendaknya berwudhu dahulu agar suci karena Al-Qur’an adalah firman Allah SWT Yang Mahasuci. Demikian pula badan, pakaian, dan tempat yang digunakan untuk membaca Al-Qur’an hendaknya suci dari najis.
  2. Pada saat mengambil Al-Qur’an, hendaknya dengan tangan kanan dan membawanya dengan kedua tangan; bukan ditenteng atau bahasa Jawanya di-cangking.
  3. Diusahakan membaca Al-Qur’an dengan menghadap kiblat.
  4. Membaca Al-Qur’an dengan mulut bersih atau tidak sambil makan. Dalam sebuah kegiatan tadarus Al-Qur’an di masjid, penulis pernah melihat ada orang sambil merokok ketika menyimak temannya sedang membaca Al-Qur'an. Sungguh, perilaku seperti ini harus dihindari.
  5. Sebelum membaca, sunnah hukumnya membaca ta’awudz (أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ); a’udzu billâhi minasy-syaithânir-rajîm (aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk) terlebih dahulu.
  6. Hendaknya membaca Al-Qur’an dengan tartil. Bagi yang sudah mengerti dan memahami maksud ayat-ayat Al-Qur’an, hendaknya membaca Al-Qur’an dengan tenang dan mengambil pelajaran dari ayat-ayat yang sedang dibacanya.

Demikianlah adab membaca Al-Qur’an yang perlu untuk kita perhatikan, sehingga kita dapat membaca kitab suci kita ini dengan hati yang khusyuk dan mendapatkan banyak keutamaan. Aamiin….

26/02/26

Tips Shalat Tarawih dengan Baik dan Nyaman

Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya bertaburan keutamaan. Bagi orang yang beriman, sudah barang tentu, merasa sangat merugi apabila tidak dapat meraih banyak keutamaan yang ada padanya. Oleh karena itu, marilah memperbanyak ibadah dan amal shaleh.
 
Selain mengerjakan kewajiban puasa di siang hari, pada malam harinya kita bisa meraih keutamaan dengan shalat Tarawih. Shalat ini adalah shalat sunnah yang khusus dikerjakan pada waktu malam di bulan Ramadhan. Shalat Tarawih dapat dikerjakan secara sendiri-sendiri dan dapat pula dikerjakan secara berjamaah.

Shalat Tarawih hukumnya sunnah muakkad atau sunnah yang sangat dianjurkan. Sedangkan waktu untuk mengerjakan shalat Tarawih adalah sesudah shalat Isya sampai dengan terbitnya fajar. Jadi, shalat tarawih dapat dikerjakan sehabis shalat Isya secara langsung, dikerjakan pada tengah malam, atau pada sepertiga malam yang terakhir.

Pada awalnya, shalat Tarawih dikerjakan oleh Nabi SAW bersama para sahabat secara berjamaah di Masjid Nabawi. Namun, hal ini hanya dilakukan oleh Nabi SAW selama tiga malam, setelah itu para sahabat melakukan shalat secara sendiri-sendiri. Shalat Tarawih dikerjakan dengan delapan rakaat. Akan tetapi, ketika Khalifah Umar bin Khattab RA menjabat sebagai khalifah, ia ingin menyatukan kaum Muslim yang shalat Tarawih secara sendiri-sendiri dalam shalat berjamaah dengan dua puluh rakaat. Apa yang dilakukan oleh Umar bin Khattab RA ini juga disepakati oleh para sahabat terkemuka pada waktu itu.

Sedangkan cara mengerjakan shalat Tarawih adalah dengan dua rakaat salam dan terakhir ditutup dengan shalat Witir. Ada juga ulama yang memilih untuk mengerjakan shalat Tarawih dengan cara empat rakaat salam dan terakhir ditutup dengan shalat Witir.

Betapa penting untuk mengerjakan shalat Tarawih ini. Sebab, orang yang berpuasa di bulan Ramadhan lantas menyempurnakannya dengan shalat malam atau Tarawih maka dosa-dosanya akan diampuni sehingga ia menjadi bersih sebagaimana baru dilahirkan dari ibunya.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mewajibkan puasa Ramadhan dan aku menyunnahkan shalat (malam) pada bulan Ramadhan (shalat Tarawih). Oleh karena itu, barangsiapa yang berpuasa dan melakukan shalat malam karena iman dan mengharapkan keridhaan Allah, akan bersih dari dosa-dosanya seperti pada hari ia dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Ahmad, Nasa’i, dan Ibnu Majah).

Shalat Tarawih dengan Tidak Tergesa-gesa

Agar dapat meraih keutamaan, shalat Tarawih hendaknya dikerjakan dengan tidak tergesa-gesa. Setidaknya, pada beberapa rukun yang disyaratkan dengan tumakninah dapat dilakukan dengan baik. Lebih bagus lagi apabila ada upaya untuk membangun kekhusyukan. Meskipun, hal yang seperti ini tidak harus diupayakan pada shalat Tarawih saja, melainkan pada shalat-shalat yang lainnya, terutama shalat Fardhu. Akan tetapi, bulan Ramadhan hanya setahun sekali, alangkah ruginya bila kita tidak menggunakan malam yang penuh kemuliaan itu dengan baik.

Pada malam di bulan Ramadhan itu pula kita semestinya juga banyak berdoa kepada Allah SWT. Hal ini kita lakukan agar kita dapat keutamaan lebih banyak lagi. Banyak doa yang dapat kita baca; di antara doa (pendek) yang dapat dibaca adalah sebagai berikut:

أَللهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي. أَللهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَ الْجَنَّةَ وَ نَعُوْذُبِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَ النَّارِ.

Allâhumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annî. Allâhumma inna nas’aluka ridhâka wal jannata wa na’ûdzu bika min sakhathika wan nâr.

Artinya:
“Ya Allah, Engkaulah Tuhan yang memberi ampunan dan suka memberikan ampunan maka ampunilah kami. Ya Allah, kami memohon ridha-Mu dan surga, dan hindarkanlah kami dari murka-Mu dan neraka.”

Makan Secukupnya Saja

Agar kita dapat memanfaatkan malam di bulan Ramadhan dengan baik, termasuk dengan mengerjakan shalat Tarawih, berdzikir, berdoa, dan beberapa ibadah lainnya, memang ada baiknya untuk mengelola cara kita dalam makan. Meskipun pada malam hari sudah diperbolehkan makan, bukan berarti makan sekenyangnya. Bila perut terlalu kenyang maka kita akan cenderung mudah mengantuk, shalat Tarawih pun menjadi terasa berat.

Dalam hal makan, kita jangan sampai berpuasa di bulan Ramadhan itu hanya menukar jadwal makan saja. Kalau di luar Ramadhan, misalnya, makan tiga kali, yakni sarapan pagi, makan siang, dan makan sore/malam; jangan sampai dalam bulan Ramadhan makannya tetap sama, yakni makan pada waktu berbuka, makan sebelum tidur atau setelah shalat Tarawih, dan makan lagi pada waktu sahur. Cara makan seperti ini memang tidak dilarang, akan tetapi kalau kita ingin dapat meraih banyak keutamaan, sebaiknya makan secukupnya saja. []

25/02/26

Puasa yang Sempurna

Beberapa hal yang dibahas sebelumnya adalah tata aturan puasa secara syar’i agar puasa Ramadhan yang kita kerjakan sah menurut syariat Islam. Misalnya, apabila seseorang tidak makan/minum dan tidak melakukan beberapa hal yang menyebabkan batalnya puasa, maka puasanya sudah sah menurut syariat Islam. Namun, secara hakikat, sesungguhnya puasa tidak hanya menahan diri dari makan/minum dan beberapa hal lainnya yang membatalkan puasa saja.
Berkaitan dengan hal ini, marilah kita perhatikan sebuah hadits, yakni dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW telah bersabda:

“Barangsiapa tidak meninggalkan perbuatan bohong dan perbuatan curang, maka Allah sama sekali tidak memerlukan perbuatannya meninggalkan makan dan minum (puasa).” (HR. Bukhari).

“Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi mereka tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga.” (HR. Ahmad).

Agar puasa kita diterima di sisi Allah SWT Yang Mahaagung, berdasarkan hadits Nabi SAW tersebut, kita harus meninggalkan perbuatan bohong dan curang. Di sinilah sesungguhnya keindahan bagi orang-orang yang mengerjakan puasa, selain tidak makan/minum juga menjaga akhlaknya agar tidak melakukan perbuatan tercela. Alangkah ruginya apabila berpuasa dalam bulan Ramadhan hanya mendapatkan lapar dan dahaga.

Menjaga diri dari perbuatan yang tidak baik ini penting sekali. Bahkan, ketika ada orang lain berbuat tidak baik kepada kita, hal ini jangan sampai membuat kita terpengaruh untuk meladeni atau membalas perbuatan tidak baiknya. Pada saat yang seperti ini, junjungan kita Nabi Muhammad SAW mengajarkan kepada kita untuk berkata, “Aku sedang berpuasa.”

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW telah bersabda:

“Tidaklah dikatakan berpuasa karena tidak makan dan tidak minum. Akan tetapi, yang dinamakan berpuasa adalah karena meninggalkan ucapan sia-sia dan perbuatan tidak senonoh. Karena itu, jika ada orang yang memakimu atau berlaku jahil kepadamu, katakanlah (kepadanya), ‘Aku sedang berpuasa. Aku sedang berpuasa.” (HR. Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Hakim).

Semakin jelas bagi kita bahwa berpuasa sesungguhnya tidak sekadar meninggalkan makan/minum dan beberapa hal lain yang membatalkan puasa saja. Berkaitan dengan hal ini, Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin membagi puasa ke dalam tiga tingkatan, yakni puasa umum (awam), puasa khusus (khawas), dan puasa lebih khusus lagi (khawas al-khawas).

Puasa umum (awam) adalah puasa yang hanya menahan diri dari makan, minum, dan bersetubuh saja. Puasa ini adalah puasanya anak-anak atau orang pada umumnya. Tingkatan kedua adalah puasa khusus (khawas), di samping menahan diri dari makan, minum, dan bersetubuh, juga memelihara seluruh anggota tubuh dari perbuatan maksiat. Puasa ini adalah puasanya orang-orang yang shaleh. Sedangkan tingkatan ketiga adalah puasa lebih khusus lagi (khawas al-khawas), selain menahan dari makan, minum, bersetubuh, dan seluruh anggota tubuh dari maksiat, juga menahan hati dari segala kehendak hina dan segala pikiran duniawi serta mencegahnya dari apa-apa yang selain Allah SWT. Puasa ini adalah puasanya para nabi, orang-orang yang teguh dalam kebenaran, dan sangat dekat hubungannya dengan Allah SWT.