08/03/26

Meraih Keutamaan I’tikaf

Secara bahasa, i’tikaf adalah mendiami sesuatu. Sedangkan menurut syara’, i’tikaf adalah berdiam diri di dalam masjid dengan niat untuk melakukan i’tikaf. I’tikaf ini dilakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Hukum melakukan i’tikaf adalah sunnah. Namun, hukum ini bisa berubah karena hal tertentu, misalnya berhukum wajib karena telah nadzar untuk melakukan i’tikaf.

Dasar yang dipakai untuk melakukan amalan i’tikaf adalah firman Allah SWT sebagai berikut:

“…Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid….” (QS. Al-Baqarah: 187).

Dalam sebuah hadits, Ibnu Umar RA menceritakan sebagai berikut:

“Sesungguhnya Nabi SAW melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari).

I'tikaf adalah sebuah amalan yang dapat dilakukan setiap waktu. Akan tetapi, ketika memasuki bulan Ramadhan, amalan ini jangan sampai lupa untuk dilakukan. Apalagi, ketika Ramadhan telah menapaki hari ke-20, inilah saatnya bagi kita untuk mengencangkan ikat pinggang dan beri’tikaf dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Nabi kita Muhammad SAW telah memberikan teladan mengenai hal ini.

Tidak ada batasan berapa lama seseorang dalam melakukan i’tikaf. Sekurang-kurangnya berhenti sebentar. Akan tetapi, bagi kita yang menginginkan keutamaan di bulan Ramadhan, tentu akan melakukan i’tikaf tidak dalam waktu yang sebentar sekali. Setidaknya, memuji-Nya dengan lantunan dzikir, beristighfar, dan memohon kebaikan kepada-Nya. Dan, satu hal yang harus menjadi perhatian kita, ketika akan i’tikaf jangan sampai lupa untuk berniat i’tikaf. Dan kalau sudah keluar dari masjid tanpa udzur berarti telah batal i’tikafnya.

Ibnu Al-Qayyim menjelaskan bahwa tujuan i’tikaf adalah, “Untuk menghubungkan hati kepada Allah SWT dengan mengalihkan hati dari segala sesuatu selain Allah Ta’ala dan mengubah segala kesibukan kita dengan menyibukkan diri dengan-Nya serta mengalihkan segala sesuatu dari selain Dia, dan hanya tertuju kepada-Nya.”

Bila demikian adanya, betapa dekat antara seorang hamba dengan Allah SWT pada saat melakukan i’tikaf. Semoga kita dapat mengerjakan i’tikaf, terutama pada malam-malam di bulan Ramadhan, lebih-lebih pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Semoga kita bersama keluarga memperoleh banyak keutamaan di bulan Ramadhan, sehingga dosa-dosa kita diampuni dan doa-doa kita dikabulkan-Nya. Aamiin….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar