Memberikan sedekah kepada orang-orang yang membutuhkan atau berinfak di jalan Allah SWT sungguh sangat besar pahalanya. Amalan mulia ini juga banyak mengandung keutamaan, tidak hanya di akhirat, namun juga pelakunya akan mendapatkan balasan yang banyak ketika hidup di dunia. Apalagi, bila dilakukan di bulan Ramadhan, tentu akan berlipat keutamaan akan diperoleh para pelakunya yang ikhlas dalam rangka mencari ridha-Nya.
Dalam sebuah hadits, dari Anas RA dikatakan, “Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang nilainya paling mulia?” Rasulullah menjawab, “Sedekah di bulan Ramadhan.” (HR. At-Tirmidzi).
Dalam hadits yang lain disebutkan, dari Ibnu Abbas RA, “Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan di antara manusia lainnya, dan beliau semakin dermawan saat berada di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Rezeki Akan Diganti oleh Sang Pemberi Rezeki
Sungguh, tak perlu khawatir terhadap harta yang kita sedekahkan atau kita infakkan di jalan Allah SWT akan hilang begitu saja. Yakinlah terhadap apa yang telah difirmankan oleh Allah SWT Yang Mahabenar dengan segala firman-Nya. Dalam hal ini, marilah kita renungkan firman Allah SWT sebagai berikut:
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya).’ Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39).
Bila memang demikian, tak perlu ada rasa pelit untuk memberikan sedekah. Jelas sekali Allah Swt. menegaskan, “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” Lagi pula, harta yang kita miliki sesungguhnya bukan milik kita dalam arti sebenarnya, semuanya adalah titipan dari Allah SWT. Meskipun demikian, kalau kita menafkahkan harta kita di jalan Allah SWT, sungguh ganti yang diberikan oleh Allah SWT tidak sedikit, melainkan berlipat-lipat.
Allah SWT berfirman:
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)
Rezeki Akan Bertambah-tambah
Bagi orang yang cerdas dan bisa berpikir jauh ke depan, sudah barang tentu berharap agar kehidupannya di masa depan, lebih jauh lagi dalam kehidupan yang abadi di akhirat kelak, senantiasa dilimpahi kebaikan oleh Allah SWT. Harapan itu pulalah yang ingin diterima ketika ia memberikan sedekah, sehingga ia mengeluarkannya dengan ikhlas karena Allah SWT. Meskipun demikian, di samping mendapatkan balasan di akhirat, ternyata di dunia pun Allah SWT memberikan ganti bagi harta yang disedekahkan hamba-Nya. Itulah kenapa kalau kita perhatikan kehidupan di sekitar kita bahwa orang yang senang bersedekah hidupnya bukannya tambah melarat, melainkan bertambah kaya.
Bila memang demikian, Mahabenar Allah SWT yang telah berfirman sebagai berikut:
“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah….” (QS. Al-Baqarah: 276).
Menurut ulama ahli tafsir, yang dimaksud dengan memusnahkan riba dalam ayat tersebut ialah Allah SWT akan memusnahkan harta yang dikembangkan dengan cara riba atau meniadakan berkahnya. Dan, yang dimaksud dengan menyuburkan sedekah ialah Allah SWT akan memperkembangkan harta yang telah dikeluarkan sedekahnya atau melipatgandakan berkahnya.
Subhânallâh…, betapa benar apa yang telah disabdakan oleh junjungan kita Nabi Agung Muhammad Saw. sebagai berikut:
“Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Allah SWT akan menambah kemuliaan kepada hamba-hamba-Nya yang pemaaf. Dan bagi hamba yang tawadhu’ karena Allah Swt., Allah Swt. akan mengangkat (derajatnya).” (HR. Muslim).
Betapa Beruntung Orang yang Bersedekah
Alangkah beruntungnya bagi orang-orang yang senang dalam memberikan sedekah. Apalagi, menurut sabda Rasulullah SAW dalam riwayat yang lain, sedekah itu bisa memadamkan dosa sebagaimana air yang memadamkan api. Mengenai hal ini, Mu’adz bin Jabal RA bercerita bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, beritahu aku amal yang akan memasukkanku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka.”
Beliau SAW bersabda, “Engkau telah bertanya tentang masalah yang besar. Namun, itu adalah perkara yang mudah bagi siapa yang dimudahkan oleh Allah SWT. Engkau harus menyembah Allah dan jangan menyekutukan-Nya dengan apa pun, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa Ramadhan, dan haji ke Baitullah.”
Kemudian beliau bersabda, “Maukah kamu aku tunjukkan pintu-pintu kebajikan? Puasa adalah perisai, sedekah memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api, dan shalat di tengah malam.”
Kemudian beliau membaca ayat, “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya….” hingga firman-Nya, “…sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS As-Sajdah: 16-17).
Kemudian beliau bersabda kembali, “Maukah kalian aku beritahu pangkal agama, tiangnya, dan puncak tertingginya?”
Aku menjawab, “Mau, wahai Rasulullah.”
Rasulullah SAW bersabda, “Pokok urusan adalah Islam (masuk Islam dengan syahadat), tiangnya adalah shalat, dan puncak tertingginya adalah jihad.” Kemudian beliau melanjutkan, “Maukah kalian aku beritahu tentang kendali bagi semua itu?”
Aku menjawab, “Mau, wahai Rasulullah.”
Beliau lalu memegang lidahnya dan bersabda, “Jagalah ini.”
Aku berkata, “Wahai Nabi Allah, apakah kita akan disiksa karena ucapan-ucapan kita?”
Beliau menjawab, “Celaka kamu. Bukankah banyak dari kalangan manusia yang tersungkur ke dalam api neraka dengan mukanya terlebih dahulu itu gara-gara buah ucapan lisannya?”
Demikianlah apa yang diceritakan oleh Mu’adz bin Jabal dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi.
Bagaimana Sedekah Jika Ekonomi Sulit?
Pembaca yang budiman, berkaitan dengan memberikan sedekah, ada pertanyaan penting yang perlu penulis sampaikan di sini, yakni “Bagaimana sedekahnya bagi orang-orang yang secara ekonomi sudah sulit?”
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, marilah kita perhatikan hadits berikut, yakni dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw. pernah ditanya:
“Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling mulia?” Beliau menjawab, “Sedekah orang yang tak punya, dan mulailah (memberi sedekah) atas orang yang banyak tanggungannya.” (Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad dan Abu Dawud. Dan, hadits ini shahih menurut Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Hakim).
Jelas sekali disampaikan oleh Nabi Saw., dalam keadaan tidak punya pun justru sedekah yang diberikannya menjadi paling mulia. Lantas, bagaimana jika memang benar-benar tidak mempunyai sesuatu untuk disedekahkan?
Jawaban dari pertanyaan tersebut dapat ditemukan dalam sebuah hadits, yakni dari Abu Dzar RA, ia berkata:
“Ada sekelompok sahabat Rasulullah mengadu, ‘Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami puasa, namun mereka dapat bersedekah dengan kelebihan hartanya.’ Beliau bersabda, ‘Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian apa-apa yang dapat kalian sedekahkan? Sesungguhnya pada setiap tasbih ada sedekah, pada setiap tahmid ada sedekah, pada setiap tahlil ada sedekah, menyuruh kebaikan adalah sedekah, melarang kemungkaran adalah sedekah, dan mendatangi istrimu juga sedekah.’ Mereka bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah jika seseorang memenuhi kebutuhan syahwatnya itu pun mendatangkan pahala?’ Beliau bersabda, ‘Apa pendapatmu, bila ia menempatkan pada tempat yang haram, bukankah ia berdosa? Demikian pula bila ia menempatkan pada tempat yang halal, ia akan mendapatkan pahala.” (HR. Muslim).
Dalam hadits yang lain disebutkan, dari Ibnu Abbas RA, “Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan di antara manusia lainnya, dan beliau semakin dermawan saat berada di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Rezeki Akan Diganti oleh Sang Pemberi Rezeki
Sungguh, tak perlu khawatir terhadap harta yang kita sedekahkan atau kita infakkan di jalan Allah SWT akan hilang begitu saja. Yakinlah terhadap apa yang telah difirmankan oleh Allah SWT Yang Mahabenar dengan segala firman-Nya. Dalam hal ini, marilah kita renungkan firman Allah SWT sebagai berikut:
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya).’ Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39).
Bila memang demikian, tak perlu ada rasa pelit untuk memberikan sedekah. Jelas sekali Allah Swt. menegaskan, “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” Lagi pula, harta yang kita miliki sesungguhnya bukan milik kita dalam arti sebenarnya, semuanya adalah titipan dari Allah SWT. Meskipun demikian, kalau kita menafkahkan harta kita di jalan Allah SWT, sungguh ganti yang diberikan oleh Allah SWT tidak sedikit, melainkan berlipat-lipat.
Allah SWT berfirman:
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)
Rezeki Akan Bertambah-tambah
Bagi orang yang cerdas dan bisa berpikir jauh ke depan, sudah barang tentu berharap agar kehidupannya di masa depan, lebih jauh lagi dalam kehidupan yang abadi di akhirat kelak, senantiasa dilimpahi kebaikan oleh Allah SWT. Harapan itu pulalah yang ingin diterima ketika ia memberikan sedekah, sehingga ia mengeluarkannya dengan ikhlas karena Allah SWT. Meskipun demikian, di samping mendapatkan balasan di akhirat, ternyata di dunia pun Allah SWT memberikan ganti bagi harta yang disedekahkan hamba-Nya. Itulah kenapa kalau kita perhatikan kehidupan di sekitar kita bahwa orang yang senang bersedekah hidupnya bukannya tambah melarat, melainkan bertambah kaya.
Bila memang demikian, Mahabenar Allah SWT yang telah berfirman sebagai berikut:
“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah….” (QS. Al-Baqarah: 276).
Menurut ulama ahli tafsir, yang dimaksud dengan memusnahkan riba dalam ayat tersebut ialah Allah SWT akan memusnahkan harta yang dikembangkan dengan cara riba atau meniadakan berkahnya. Dan, yang dimaksud dengan menyuburkan sedekah ialah Allah SWT akan memperkembangkan harta yang telah dikeluarkan sedekahnya atau melipatgandakan berkahnya.
Subhânallâh…, betapa benar apa yang telah disabdakan oleh junjungan kita Nabi Agung Muhammad Saw. sebagai berikut:
“Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Allah SWT akan menambah kemuliaan kepada hamba-hamba-Nya yang pemaaf. Dan bagi hamba yang tawadhu’ karena Allah Swt., Allah Swt. akan mengangkat (derajatnya).” (HR. Muslim).
Betapa Beruntung Orang yang Bersedekah
Alangkah beruntungnya bagi orang-orang yang senang dalam memberikan sedekah. Apalagi, menurut sabda Rasulullah SAW dalam riwayat yang lain, sedekah itu bisa memadamkan dosa sebagaimana air yang memadamkan api. Mengenai hal ini, Mu’adz bin Jabal RA bercerita bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, beritahu aku amal yang akan memasukkanku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka.”
Beliau SAW bersabda, “Engkau telah bertanya tentang masalah yang besar. Namun, itu adalah perkara yang mudah bagi siapa yang dimudahkan oleh Allah SWT. Engkau harus menyembah Allah dan jangan menyekutukan-Nya dengan apa pun, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa Ramadhan, dan haji ke Baitullah.”
Kemudian beliau bersabda, “Maukah kamu aku tunjukkan pintu-pintu kebajikan? Puasa adalah perisai, sedekah memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api, dan shalat di tengah malam.”
Kemudian beliau membaca ayat, “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya….” hingga firman-Nya, “…sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS As-Sajdah: 16-17).
Kemudian beliau bersabda kembali, “Maukah kalian aku beritahu pangkal agama, tiangnya, dan puncak tertingginya?”
Aku menjawab, “Mau, wahai Rasulullah.”
Rasulullah SAW bersabda, “Pokok urusan adalah Islam (masuk Islam dengan syahadat), tiangnya adalah shalat, dan puncak tertingginya adalah jihad.” Kemudian beliau melanjutkan, “Maukah kalian aku beritahu tentang kendali bagi semua itu?”
Aku menjawab, “Mau, wahai Rasulullah.”
Beliau lalu memegang lidahnya dan bersabda, “Jagalah ini.”
Aku berkata, “Wahai Nabi Allah, apakah kita akan disiksa karena ucapan-ucapan kita?”
Beliau menjawab, “Celaka kamu. Bukankah banyak dari kalangan manusia yang tersungkur ke dalam api neraka dengan mukanya terlebih dahulu itu gara-gara buah ucapan lisannya?”
Demikianlah apa yang diceritakan oleh Mu’adz bin Jabal dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi.
Bagaimana Sedekah Jika Ekonomi Sulit?
Pembaca yang budiman, berkaitan dengan memberikan sedekah, ada pertanyaan penting yang perlu penulis sampaikan di sini, yakni “Bagaimana sedekahnya bagi orang-orang yang secara ekonomi sudah sulit?”
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, marilah kita perhatikan hadits berikut, yakni dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw. pernah ditanya:
“Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling mulia?” Beliau menjawab, “Sedekah orang yang tak punya, dan mulailah (memberi sedekah) atas orang yang banyak tanggungannya.” (Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad dan Abu Dawud. Dan, hadits ini shahih menurut Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Hakim).
Jelas sekali disampaikan oleh Nabi Saw., dalam keadaan tidak punya pun justru sedekah yang diberikannya menjadi paling mulia. Lantas, bagaimana jika memang benar-benar tidak mempunyai sesuatu untuk disedekahkan?
Jawaban dari pertanyaan tersebut dapat ditemukan dalam sebuah hadits, yakni dari Abu Dzar RA, ia berkata:
“Ada sekelompok sahabat Rasulullah mengadu, ‘Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami puasa, namun mereka dapat bersedekah dengan kelebihan hartanya.’ Beliau bersabda, ‘Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian apa-apa yang dapat kalian sedekahkan? Sesungguhnya pada setiap tasbih ada sedekah, pada setiap tahmid ada sedekah, pada setiap tahlil ada sedekah, menyuruh kebaikan adalah sedekah, melarang kemungkaran adalah sedekah, dan mendatangi istrimu juga sedekah.’ Mereka bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah jika seseorang memenuhi kebutuhan syahwatnya itu pun mendatangkan pahala?’ Beliau bersabda, ‘Apa pendapatmu, bila ia menempatkan pada tempat yang haram, bukankah ia berdosa? Demikian pula bila ia menempatkan pada tempat yang halal, ia akan mendapatkan pahala.” (HR. Muslim).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar