28/09/19

Berislam Itu Kepenak dan Mengepenakkan Orang

Santai, membaca buku:
"Tuhan Itu 'Maha Santai', Maka Selowlah...
Judul Buku: Tuhan Itu ‘Maha Santai’, Maka Selowlah…
Penulis: Edi AH Iyubenu
Penerbit: DIVA Press
Cetakan: Pertama, September 2019
Tebal: 180 hlm.

Dalam memasuki agama ini, Allah Swt. berfirman, “Laa ikraaha fiddiin… tidak ada paksaan dalam (memasuki) agama (Islam).” Maka, Nabi Muhammad Saw. mendakwahkan agama ini dengan akhlak yang mulia. Sebuah akhlak yang membuat para pengikutnya senang bertemu Nabi, berdekat-dekat, bahkan sekadar memandang wajah Nabi. Sedangkan orang yang menolak ajaran Nabi pun bukan karena sikap Nabi, pribadi Nabi, tapi lebih karena egonya yang tidak mau menerima ajaran Nabi.

18/07/19

Bersuci dari Hadats Kecil

Berwudhu; bersuci dari hadats kecil.
Seorang Muslim yang akan mengerjakan ibadah harus suci dari hadats kecil. Seseorang dikatakan berhadats kecil apabila buang air besar maupun kecil, buang angin atau kentut, atau terjadinya beberapa hal yang menyebabkan batalnya wudhu.

Agar seseorang bisa suci dari hadats kecil maka harus melakukan wudhu dengan menggunakan air. Akan tetapi, apabila seseorang tidak menemukan air, atau tidak boleh terkena air karena sakit, maka seseorang bisa melakukan tayamum dengan menggunakan debu.

09/05/19

Berhenti Maksiat, Rezeki Berkah

Istiqamah menapaki jalan, menepis segala godaan.
Berhenti dari perbuatan maksiat dapat menyebabkan rezeki menjadi lancar. Tampaknya tidak banyak orang yang sepaham dengan hal ini. Sebab, banyak orang yang maksiatnya jalan terus, nyatanya rezeki juga lancar dan bahkan bertambah-tambah. Tapi, tunggu dulu, rezeki yang dimaksudkan di sini adalah rezeki yang penuh keberkahan dari Allah Swt.

Rezeki yang berkah adalah rezeki yang membuat orang yang memperolehnya semakin bertambah bahagia, tenteram hatinya, baik dan rukun keluarganya, dan kian bertambah pula kebaikan yang dilakukannya karena adanya rezeki tersebut. Rezeki yang seperti inilah yang tidak bisa diperoleh jika seseorang tidak berhenti dari perbuatan maksiat.

11/12/18

Uang Semakin Bertambah

Berikhtiar dan berdoa, semoga Allah mengabulkan.
Pada suatu hari saya usul ke bendahara masjid agar menaikkan jumlah isi amplop yang diberikan kepada para penceramah pengajian. Saya sampaikan juga bahwa semakin bertambah besar yang kita berikan, insya Allah akan semakin bertambah banyak pula jumlah perolehan yang masuk ke dalam kotak infaq. Mari kita buktikan! Demikian saya mengakhiri pembicaraan dengan pengurus takmir tersebut.

Ternyata betul. Semenjak uang transportasi untuk penceramah ditambah, maka bertambah pula jumlah uang infaq yang masuk ke takmir masjid. Saya memang sangat meyakini hal ini. Tidak hanya bagi masjid, tentu bagi siapa saja yang mau memberi, pasti dia akan menerima. Ajaibnya, yang diterima bukan jumlah yang sama, tapi lebih besar dari jumlah yang telah disedekahkannya.

17/10/18

Menilai Orang Lain

Foto suatu malam di Masjid Rumah Sakit Sardjito,
Yogyakarta.
Di beberapa kali pengajian, ketika ada yang bilang, si A salah, si B ga bener, karena telah begini dan begitu, sang guru berkomentar begini:

Kita ini ibaratnya sama-sama sebagai anak sekolah yang sedang mengerjakan soal-soal ujian. Sebagai sesama peserta ujian, ga perlu bagi kita ikut-ikutan menilai hasil garapan peserta ujian lain. Biar Allah Ta’ala saja yang memberikan penilaian.

Lalu, ada yang bertanya, kalau begitu letak dakwah di mana?